Bola Putih dan Bola Kuning

Bola Putih dan Bola Kuning

Pembaca buku Hijrah Rezeki tentu tak asing lagi dengan sosok ibu guru TK yang diceritakan pada kisah pakaian putih. Sosok bijak yang menjelaskan prinsip keikhlasan dengan apik sekali.

Kali ini beliau punya cerita baru. Tentu saja kisah ini juga melibatkan anak-anak didiknya, karena memang “Anak adalah sumber inspirasi”.

Suatu hari ibu guru memberikan seperangkat permainan kepada setiap anak, yaitu sebuah kantong tak tembus pandang, sebuah bola pingpong berwarna putih, dan tiga buah bola pingpong berwarna kuning.

Cara bermainnya mudah, setiap anak cukup mengambil satu bola secara acak dari dalam kantong. Jika kebetulan yang diraih adalah bola putih, ibu guru akan langsung memberi hadiah crayon dan kertas gambar. Anak-anak muridnya memang paling suka menggambar dan mewarnai.

Tetapi jika bola kuning yang diraih, hadiah tidak diberikan dulu. Anak-anak akan diberi kesempatan kedua untuk mengambil lagi secara acak. Hanya jika berhasil mendapat bola putih maka ibu guru akan memberi hadiah. Begitulah seterusnya.

Tentu saja pada akhirnya mereka akan tetap mendapat hadiah, selambat-lambatnya pada kesempatan keempat! Ibu guru tak akan tega membiarkan mereka tanpa crayon kesukaannya. Mari kita lihat bagaimana reaksi anak-anak tersebut?

Ternyata, saat belum berhasil meraih bola putih, justru mereka tertawa gemas dan lebih antusias. Dalam benaknya, tentu semakin mudah peluang meraih bola putih, karena satu bola kuning sudah berhasil dikeluarkan.

Ketika masih belum berhasil pada kesempatan kedua, mereka justru semakin geli tertawa pada diri sendiri. Dalam benaknya seolah-olah berkata, “Sudah dua bola kuning berhasil dipisahkan, semakin dekat waktunya bola putih ini aku raih!”

O, alangkah polosnya prasangka anak-anak. Andai kita bisa meniru mereka! Saat gagal, justru dianggapnya sebagai keberhasilan. Yaitu berhasil memisahkan bola kuning, dan berhasil mendekatkan jarak antara dirinya dengan bola putih!

Semua ini karena mereka yakin, bola putih benar-benar ada di dalam kantong. Mereka percaya, bola kuning toh tidak selamanya terambil. Pada saatnya akan habis juga dan menyisakan bola putih untuk mereka.

Cerdas nian ibu guru yang satu ini. Beliau hendak memberi bekal untuk muridnya jika dewasa nanti. Bahwa kegagalan tidak akan selamanya. Pada saatnya kegagalan akan habis juga dan menyisakan keberhasilan untuk mereka.

Beliau hendak mengajarkan bahwa bola kuning dan bola putih adalah satu paket yang tak terpisahkan. Demikian pula kegagalan dan keberhasilan. Begitu juga kesulitan dan kemudahan. Semua disiapkan oleh Allah sebagai paket yang berpasangan-pasangan.

Ketika menggambarkan tentang hal ini kepada para sahabat, Rasulullah menunjuk pada sebuah lubang di tanah, kemudian bersabda seperti dalam hadist riwayat Al-Hakim berikut,

لَوْ جَاءَ العُسْرُ فَدَخَلَ هَذَا الحُجْرَ لَجَاءَ اليُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ فَيُخْرِجُهُ

“Seandainya ada kesulitan datang ke dalam lubang ini, berarti akan datang pula kemudahan dan ia turut masuk ke dalam lubang ini (karena keduanya satu paket). Sehingga nanti kesulitan akan keluar dari dalam lubang (dan menyisakan kemudahan untuk kita)”

O, siapakah orang yang tak percaya dengan sabda Rasulullah? Siapa orangnya yang tidak yakin bahwa kemudahan akan datang, jika semua kesulitan telah kita selesaikan? Siapapun orangnya, asal bukan kita.

Adapun kita, lebih baik jika meniru perilaku anak-anak yang jujur itu. Ketika kita sedang menghadapi kegagalan, katakan pada diri sendiri, “Sudah sekian gagal yang berhasil aku lewati, berarti semakin dekat waktunya keberhasilan ini aku raih!”

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

beranda

PESAN AYAH

Updated: 18/12/2019 —

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *